Sabtu, 19 November 2011

FRIENDSHIP

It's about friendship

Message:
 Ini sebuah kisah tentang dua orang
sahabat karib yang sedang berjalan melintasi
gurun pasir. Di tengah perjalanan, mereka
bertengkar, dan salah seorang menampar
temannya. Orang yang kena tampar, merasa
sakit hati, tapi dengan tanpa berkata-kata,
dia menulis di atas pasir; HARI INI,
SAHABAT TERBAIK KU MENAMPAR PIPIKU.

Mereka terus berjalan, sampai menemukan
sebuah oasis, di mana mereka memutuskan
untuk mandi.

Orang yang pipinya kena tampar dan terluka
hatinya, mencoba berenang namun nyaris
tenggelam, dan berhasil diselamatkan oleh
sahabatnya. Ketika dia mulai siuman dan rasa
takutnya sudah hilang, dia menulis di sebuah
batu; HARI INI, SAHABAT TERBAIK KU
MENYELAMATKAN NYAWAKU.

Orang yang menolong dan menampar
sahabatnya, bertanya, "Kenapa setelah saya
melukai hatimu, kau menulisnya di atas pasir,
dan sekarang kamu menulis di batu?"

Temannya sambil tersenyum menjawab, "Ketika
seorang sahabat melukai kita, kita harus
menulisnya di atas pasir agar angin maaf
datang berhembus dan menghapus tulisan
tersebut.

Dan bila sesuatu yang luar biasa terjadi, kita
harus memahatnya di atas batu hati kita, agar
tidak bisa hilang tertiup angin.

Dalam hidup ini sering timbul beda pendapat
dan konflik dengan suami / isteri, kekasih, adik /
kakak, kolega, dll,karena sudut pandang yang
berbeda. Oleh karenanya cobalah untuk saling
memaafkan dan lupakan masalah lalu.

Manfaat positif dari continuous relationship
mungkin sekali jauh lebh besar ketimbang
kekecewaan masa lalu. Nobody's perfect.
Belajarlah menulis di atas pasir


aku besyukur (:



Aku bersyukur
Mendengar ABG ngomel sambil mencuci piring,
karena itu berarti bahwa ia ada dirumah dan tidak berkeliaran dijalanan. 

Membayar pajak penghasilan,
karena itu berarti bahwa aku bukan penganggur.

Merasa lelah dan pegal linu setiap sore,
sebab itu berarti aku mampu bekerja keras.

Membersihkan piring dan gelas kotor setelah menerima tamu dirumah,
karena itu berarti aku dikelilingi teman-teman.

Pakaianku terasa agak sempit,
karena itu berarti bahwa makanku cukup kenyang.

Mencuci dan menyetrika tumpukan baju,
sebab itu berarti aku memiliki pakaian.

Membersihkan halaman rumah, membersihkan jendela, memperbaiki talang dan got,
karena itu berarti aku memiliki tempat tinggal.

Mendengar keluhan-keluhan tentang kinerja pemerintah,
karena itu berarti kita memiliki kebebasan berpendapat.

Mendengar nyanyian suara yang fals,
karena itu berarti aku bisa mendengar.

Mendengar bunyi jam alarm dipagi hari,
sebab itu berarti aku hidup.

Akhirnya, aku bersyukur mendapatkan e-mail yang bertubi-tubi,
karena itu berarti aku memiliki teman-teman yang peduli padaku.

Kirimlah kata-kata ini kepada temanmu. Aku baru saja melakukannya.
Seseorang yang peduli tentang aku telah mengirimkannya kepadaku ...

ALLAH ada disamping kita

Kisah ini terjadi di Rusia.

Seorang ayah, yang memiliki putra yang berusia kurang lebih 5 tahun,
memasukkan putranya tersebut ke sekolah musik untuk belajar piano.
 Ia rindu melihat anaknya kelak menjadi seorang pianis yang terkenal.

Selang beberapa waktu kemudian, di kota tersebut datang seorang pianis
yang sangat terkenal. Karena ketenarannya, dalam waktu singkat tiket konser telah terjual habis.
Sang ayah membeli 2 buah tiket pertunjukan, untuk dirinya dan anaknya.

Pada hari pertunjukan, satu jam sebelum konser dimulai, kursi telah
terisi penuh, sang ayah duduk dan putranya tepat berada di sampingnya.
Seperti layaknya seorang anak kecil, anak ini pun tidak betah duduk
diam terlalu lama, tanpa sepengetahuan ayahnya, ia menyelinap pergi.

Ketika lampu gedung mulai diredupkan, sang ayah terkejut menyadari
bahwa putranya tidak ada di sampingnya.
Ia lebih terkejut lagi ketika melihat anaknya berada dekat panggung
pertunjukan, dan sedang berjalan menghampiri piano yang akan dimainkan
pianis tersebut.

Didorong oleh rasa ingin tahu, tanpa takut anak tersebut duduk di
depan piano dan mulai memainkan sebuah lagu, lagu yang sederhana,
twinkle2 little star.

Operator lampu sorot, yang terkejut mendengar adanya suara piano
mengira bahwa konser telah dimulai tanpa aba-aba terlebih dahulu, dan
ia langsung menyorotkan lampunya ke tengah panggung.

Seluruh penonton terkejut, melihat yang berada di panggung bukan sang
pianis, tapi hanyalah seorang anak kecil.
Sang pianis pun terkejut, dan bergegas naik ke atas panggung.
Melihat anak tersebut, sang pianis tidak menjadi marah, ia tersenyum
dan berkata "Teruslah bermain", dan sang anak yang mendapat ijin,
meneruskan permainannya.

Sang pianis lalu duduk, di samping anak itu, dan mulai bermain
mengimbangi permainan anak itu, ia mengisi semua kelemahan permainan
anak itu, dan akhirnya tercipta suatu komposisi permainan yang sangat
indah.
Bahkan mereka seakan menyatu dalam permainan piano tersebut.
Ketika mereka berdua selesai, seluruh penonton menyambut dengan
meriah, karangan bunga dilemparkan ke tengah panggung.
Sang anak jadi GR (Gede Rasa), pikirnya "Gila, baru belajar piano
sebulan saja sudah hebat!"
Ia lupa bahwa yang disoraki oleh penonton adalah sang pianis yang
duduk di sebelahnya, mengisi semua kekurangannya dan menjadikan
permainannya sempurna.

Apa implikasinya dalam hidup kita ?
Kadang kita bangga akan segala rencana hebat yang kita buat,
perbuatan-perbuatan besar yang telah berhasil kita lakukan.
Tapi kita lupa, bahwa semua itu terjadi karena Allah ada di samping
kita.
Kita adalah anak kecil tadi, tanpa ada Allah di samping kita, semua
yang kita lakukan akan sia-sia.
Tapi bila Allah ada di samping kita, sesederhana apapun hal yang kita
lakukan hal itu akan menjadi hebat dan baik, bukan saja buat diri kita
sendiri tapi juga baik bagi orang di sekitar kita.

Semoga kita tidak pernah lupa bahwa ada Allah di samping kita.